0813 6441 1100 pp@pergabi.id

Jakarta. Perkumpulan Guru Agama Buddha Indonesia (PERGABI) kembali menyelenggarakan PUBANTARA (Puja Bakti Nusantara) #5, pada Senin (10/8/2026) yang dipimpin oleh Ibu Puji Hartati, S.Ag., M.Pd. Kegiatan puja bakti yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom tersebut menjadi bentuk penghormatan dan ungkapan belasungkawa dalam rangka peringatan tiga hari wafatnya mendiang Bapak Santoso.

Sebagaimana diketahui, Bapak Santoso merupakan ayahanda dari Ibu Tijem, S.Ag., Guru Pendidikan Agama Buddha SD Negeri Kaligentong, Boyolali, serta mertua dari Bapak Kartomo, S.Ag. Kepergian beliau menjadi duka bagi keluarga dan sekaligus mengundang kepedulian serta solidaritas keluarga besar PERGABI.

PUBANTARA #5 berlangsung pada pukul 18.00–19.00 WIB dan diikuti sekitar 20 peserta yang terdiri atas guru Pendidikan Agama Buddha dan anggota PERGABI dari berbagai daerah. Meskipun dilaksanakan secara virtual, kegiatan berlangsung dalam suasana khidmat dan penuh kebersamaan.

Puja Bakti sebagai Ungkapan Penghormatan

Rangkaian PUBANTARA #5 diawali dengan Puja Avamaṅgala, sebagai bentuk penghormatan kepada mendiang sekaligus momentum bagi peserta untuk bersama-sama mengembangkan kebajikan.

Dalam puja bakti tersebut, peserta memanjatkan doa dan melakukan pelimpahan jasa kebajikan bagi mendiang Bapak Santoso. Kebajikan yang dilakukan diharapkan menjadi kondisi pendukung bagi kebahagiaan mendiang sesuai dengan karma dan buah kebajikan yang telah dilakukan selama kehidupannya.

Kehadiran para guru dan anggota PERGABI dari berbagai daerah juga menjadi bentuk dukungan moral bagi keluarga yang sedang menghadapi masa duka.

Bagi PERGABI, PUBANTARA bukan sekadar kegiatan keagamaan yang dilaksanakan secara daring. Kegiatan ini menjadi ruang untuk menghadirkan persaudaraan, kepedulian, dan kebersamaan dalam Dhamma, terutama ketika salah satu keluarga besar sedang mengalami peristiwa kehilangan.

Merenungkan Ketidakkekalan

Setelah rangkaian puja bakti, kegiatan dilanjutkan dengan Renungan Karakteristik Ketidakkekalan (Anicca) yang mengangkat tema:

“Memahami Perubahan, Menemukan Kedamaian.”

Renungan disampaikan oleh Sukiman, S.Ag., M.Pd.B., M.Si selaku Ketua Umum PERGABI.

Melalui renungan tersebut, peserta diajak memahami bahwa segala sesuatu yang berkondisi senantiasa mengalami perubahan. Kehidupan, sebagaimana segala sesuatu yang terbentuk dan berkondisi, tidak dapat dipisahkan dari proses muncul, berkembang, berubah, dan akhirnya berakhir.

Pemahaman terhadap anicca menjadi sangat relevan ketika seseorang menghadapi kehilangan. Duka merupakan bagian dari pengalaman manusia, tetapi Dhamma mengajarkan agar kesedihan dihadapi dengan kesadaran, kebijaksanaan, dan penerimaan terhadap kenyataan.

Perpisahan dengan orang yang dicintai menjadi pengingat bahwa kehidupan tidaklah kekal. Karena itu, setiap kesempatan dalam kehidupan perlu diisi dengan kebajikan, kasih sayang, dan perbuatan yang bermanfaat bagi diri sendiri maupun sesama.

PERGABI Hadir dalam Kebersamaan

Penyelenggaraan PUBANTARA #5 menunjukkan komitmen PERGABI untuk terus membangun kebersamaan di antara guru Pendidikan Agama Buddha di seluruh Indonesia.

Jarak geografis tidak menjadi penghalang untuk bersama-sama memberikan penghormatan kepada mendiang. Melalui teknologi digital, para guru dapat hadir dalam satu ruang virtual, mengikuti puja bakti, melakukan perenungan Dhamma, dan memberikan dukungan kepada keluarga yang sedang berduka.

Kehadiran tersebut menjadi bentuk nyata bahwa keluarga besar PERGABI tidak hanya hadir dalam kegiatan organisasi, tetapi juga hadir dalam suka dan duka para anggotanya.

Dalam kesempatan tersebut, keluarga besar PERGABI juga menyampaikan dukungan kepada Ibu Tijem, S.Ag., Bapak Kartomo, S.Ag., serta seluruh keluarga yang ditinggalkan. Semoga keluarga diberikan kekuatan, ketabahan, kesabaran, dan keikhlasan dalam menghadapi perpisahan dengan orang yang dicintai.

Dari Perpisahan Menuju Kebijaksanaan

Peringatan tiga hari wafat mendiang Bapak Santoso menjadi momentum untuk kembali merefleksikan ajaran Buddha tentang ketidakkekalan.

Kesadaran akan anicca bukan berarti menghilangkan rasa kehilangan, tetapi membantu seseorang memahami bahwa perubahan dan perpisahan merupakan bagian dari kehidupan yang tidak dapat dihindari.

Dengan memahami ketidakkekalan, seseorang diharapkan mampu menjalani kehidupan dengan lebih bijaksana, tidak melekat secara berlebihan, serta semakin terdorong untuk menggunakan waktu yang dimiliki dengan melakukan kebajikan.

Melalui PUBANTARA #5, PERGABI kembali meneguhkan semangat “bersama dalam Dhamma”. Sebuah kebersamaan yang tidak hanya hadir ketika berada dalam suasana bahagia, tetapi juga ketika menghadapi kedukaan dan perpisahan.

Semoga segala jasa kebajikan yang telah dilakukan dalam PUBANTARA #5 menjadi kondisi yang baik bagi mendiang Bapak Santoso, sehingga memperoleh kebahagiaan dan kelahiran yang baik sesuai dengan buah karmanya.

Semoga keluarga yang ditinggalkan senantiasa memperoleh kedamaian batin, kekuatan, kesabaran, ketabahan, dan keikhlasan.

Aniccā vata saṅkhārā, uppādavayadhammino;
uppajjitvā nirujjhanti, tesaṃ vūpasamo sukho.

“Sungguh tidak kekal segala bentukan; memiliki sifat timbul dan lenyap. Setelah timbul, semuanya berakhir; padamnya adalah kebahagiaan.”

Semoga mendiang Bapak Santoso berbahagia sesuai dengan buah kebajikannya.

Semoga semua makhluk hidup berbahagia.

Sadhu… Sadhu… Sadhu… 🙏

Namo Buddhaya.