Jakarta, 26 Agustus 2026 – Perkumpulan Guru Agama Buddha Indonesia (PERGABI) kembali menyelenggarakan PUBANTARA (Puja Bakti Nusantara) #10 secara daring melalui Zoom, Rabu (26/8/2026). Memasuki pelaksanaan yang kesepuluh, PUBANTARA kembali menjadi ruang kebersamaan bagi keluarga besar PERGABI dan guru Pendidikan Agama Buddha dari berbagai daerah untuk melaksanakan puja bakti, melimpahkan jasa kebajikan, serta memberikan dukungan spiritual kepada keluarga yang sedang mengalami kedukaan.
PUBANTARA #10 dilaksanakan dalam rangka peringatan tujuh hari mendiang Bapak Sandikarto dan tiga hari mendiang Ibu Sawi. Kegiatan diikuti oleh lebih dari 50 peserta melalui Zoom.
Mendiang Bapak Sandikarto merupakan ayahanda dari Ibu Marlinah, Guru Agama Buddha SDS Mondial Batam, sekaligus mertua dari Bapak Eko Winarno, Guru Agama Buddha SMAN 10 Batam.
Sementara itu, mendiang Ibu Sawi merupakan ibunda dari Ibu Murniati serta mertua dari Bapak Suparmin, yang merupakan bagian dari keluarga besar PERGABI Jambi.
Kehadiran puluhan peserta dari berbagai wilayah menjadi bentuk nyata kepedulian dan persaudaraan. Meskipun dipertemukan melalui ruang virtual, seluruh peserta bersama-sama mengikuti puja bakti dengan penuh khidmat untuk mengenang para mendiang dan menguatkan keluarga yang ditinggalkan.
Bapak Sukartono, S.Pd.B. Memandu PUBANTARA #10
Seluruh rangkaian kegiatan dipandu oleh Bapak Sukartono, S.Pd.B. selaku pembawa acara.
Dengan suasana yang tenang dan penuh penghormatan, Bapak Sukartono mengarahkan jalannya kegiatan mulai dari pembukaan, puja bakti, Dhamma Desana, hingga penyampaian ungkapan terima kasih dari keluarga.
Peran MC turut menjaga rangkaian PUBANTARA berlangsung tertib sekaligus menghadirkan suasana kebersamaan bagi peserta yang mengikuti dari berbagai daerah.
Puja Bakti Dipimpin Bapak Thukul Slamet, S.Ag.
Rangkaian puja bakti dipimpin oleh Bapak Thukul Slamet, S.Ag.
Peserta diajak mengikuti pembacaan paritta dengan penuh perhatian dan ketenangan. Puja bakti menjadi momentum untuk mengembangkan kebajikan, menguatkan batin, serta melakukan pelimpahan jasa bagi para mendiang.
Melalui praktik bersama tersebut, keluarga besar PERGABI turut memberikan dukungan moral dan spiritual kepada keluarga yang sedang menghadapi kehilangan.
Puja bakti juga menjadi ruang perenungan bagi seluruh peserta bahwa kehidupan tidak terlepas dari perubahan, perpisahan, dan kematian.
Dhamma Desana Bapak Pujimin: Kebajikan sebagai Bentuk Penghormatan kepada yang Telah Berpulang
Dhamma Desana dalam PUBANTARA #10 disampaikan oleh Bapak Pujimin.
Dalam penyampaiannya, Bapak Pujimin mengajak peserta memahami bagaimana seharusnya keluarga dan sanak saudara menyikapi kepergian orang yang telah meninggal.
Kematian tentu menghadirkan kesedihan dan kehilangan. Namun, dalam perspektif Dhamma, keluarga yang ditinggalkan tidak semestinya larut dalam tangisan, kesedihan, atau ratapan yang tidak memberikan manfaat.
Sebaliknya, peristiwa kematian dapat menjadi momentum untuk melakukan kebajikan dan melimpahkan jasa.
Pesan tersebut sejalan dengan ajaran Buddha bahwa penghormatan kepada mereka yang telah berpulang dapat diwujudkan melalui perbuatan baik, persembahan, dukungan kepada Sangha, serta berbagai bentuk kebajikan yang dilakukan dengan ketulusan.
Kebaikan yang dilakukan oleh keluarga dan sanak saudara menjadi bentuk penghormatan yang lebih bermakna daripada sekadar larut dalam kesedihan.
Melakukan Kebajikan dengan Cara yang Mulia
Dalam Dhamma Desana tersebut, peserta diajak untuk memahami bahwa ketika seseorang telah berpulang, hal terbaik yang dapat dilakukan oleh keluarga adalah terus melakukan kebajikan.
Kebajikan dapat dilakukan melalui berbagai bentuk, termasuk berdana, mendukung Sangha, membantu mereka yang membutuhkan, serta menjalankan tugas dan tanggung jawab sebagai anggota keluarga dengan sebaik-baiknya.
Dengan demikian, duka tidak hanya berhenti sebagai rasa kehilangan. Duka dapat diubah menjadi energi untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat.
Kesedihan dapat menjadi kebajikan ketika diwujudkan dalam tindakan yang baik.
Pesan ini menjadi relevan bagi siapa pun yang pernah mengalami kehilangan. Ketika seseorang yang dicintai telah pergi, kehidupan mereka yang masih hidup tetap berlanjut. Kesempatan untuk berbuat baik pun masih terbuka luas.
Karena itu, daripada terus tenggelam dalam kesedihan, keluarga dapat mengenang orang yang telah berpulang melalui perbuatan-perbuatan baik yang bermanfaat bagi banyak pihak.
Keluarga Menyampaikan Terima Kasih
Dalam kesempatan tersebut, keluarga mendiang Ibu Sawi menyampaikan rasa terima kasih kepada keluarga besar PERGABI dan seluruh peserta yang telah hadir serta mengikuti PUBANTARA #10.
Kehadiran dan dukungan dalam bentuk puja bakti serta pelimpahan jasa menjadi penguatan bagi keluarga dalam menghadapi masa kedukaan.
Ungkapan terima kasih juga disampaikan oleh Ibu Marlinah, putri mendiang Bapak Sandikarto. Ia menyampaikan apresiasi kepada PERGABI dan seluruh peserta yang telah bersama-sama memberikan penghormatan kepada mendiang melalui PUBANTARA.
Bagi keluarga, perhatian dan kebersamaan tersebut menjadi bentuk dukungan yang sangat berarti. Kehadiran keluarga besar PERGABI menunjukkan bahwa persaudaraan tidak berhenti pada hubungan organisasi, tetapi juga hadir ketika salah satu keluarga mengalami kebahagiaan maupun kedukaan.
PUBANTARA, Ruang Persaudaraan dalam Dhamma
Pelaksanaan PUBANTARA #10 kembali memperlihatkan bagaimana ruang virtual dapat digunakan untuk menghadirkan kebersamaan dan kepedulian.
Lebih dari 50 peserta dari berbagai daerah berkumpul dalam satu ruang Zoom. Mereka tidak hanya mengikuti sebuah acara, tetapi bersama-sama mengambil bagian dalam praktik kebajikan dan memberikan dukungan kepada keluarga yang sedang berduka.
Sepuluh kali pelaksanaan PUBANTARA menunjukkan konsistensi PERGABI dalam menghadirkan ruang spiritual yang sederhana namun bermakna.
PUBANTARA menjadi pengingat bahwa ketika seseorang mengalami kehilangan, mereka tidak harus menghadapinya seorang diri. Ada keluarga, sahabat, rekan sejawat, dan komunitas Dhamma yang hadir untuk saling menguatkan.
Mengubah Duka Menjadi Kebajikan
PUBANTARA #10 pada akhirnya membawa sebuah pesan yang sederhana namun mendalam.
Kematian memang menghadirkan kehilangan. Namun, kehilangan tidak harus berakhir pada kesedihan yang berkepanjangan. Mereka yang masih hidup masih memiliki kesempatan untuk melakukan kebajikan, membantu sesama, menjaga keluarga, mendukung Sangha, dan menjalani kehidupan dengan lebih bermakna.
Mengenang mereka yang telah berpulang bukan hanya dengan mengingat sosoknya, tetapi juga dengan melanjutkan nilai-nilai baik melalui perbuatan nyata.
Semoga jasa kebajikan yang dilakukan dalam PUBANTARA #10 menjadi kondisi yang baik bagi para mendiang sesuai dengan karma masing-masing. Semoga keluarga yang ditinggalkan memperoleh ketabahan, kesabaran, dan kedamaian batin.
Sabbe saṅkhārā aniccā.
Segala sesuatu yang berkondisi adalah tidak kekal.
Sadhu. Sadhu. Sadhu.