0813 6441 1100 pp@pergabi.id

Jakarta, 23 Agustus 2026 – Perkumpulan Guru Agama Buddha Indonesia (PERGABI) kembali menyelenggarakan PUBANTARA (Puja Bakti Nusantara) #9 pada Minggu (23/8/2026) secara daring melalui Zoom. Memasuki pelaksanaan kesembilan, kegiatan ini kembali menjadi ruang kebersamaan bagi guru Pendidikan Agama Buddha dan umat Buddha dari berbagai daerah untuk melaksanakan puja bakti, mengenang mereka yang telah berpulang, serta memberikan dukungan spiritual kepada keluarga yang ditinggalkan.

PUBANTARA #9 yang diikuti oleh sekitar 39 peserta dilaksanakan  sebagai bentuk penghormatan dan pelimpahan jasa bagi mendiang Ibu Partimah, ibunda Ibu Nok Sri Yanti, Guru Agama Buddha di Makassar, sekaligus mertua Bapak Sayudi, Ketua PD PERGABI Makassar; mendiang Bapak Ngadiyanto, S.Pd.B., anggota PERGABI Jawa Tengah dan Guru Agama Buddha SD Negeri 2 Kaloran, Kabupaten Temanggung, sekaligus suami Ibu Tri Maryani, Guru Agama Buddha SD Negeri Tempuran, Kaloran; serta mendiang Bapak Sandikarto, ayahanda Ibu Marlinah, Guru Agama Buddha SDS Mondial Batam, sekaligus mertua Bapak Eko Winarno, Guru Agama Buddha SMAN 10 Batam.

Melalui pembacaan paritta dan pelimpahan jasa kebajikan, peserta bersama-sama mengembangkan kebajikan sekaligus memberikan penghormatan kepada para mendiang.

Ibu Brui Mutamang, S.Ag., M.Pd.B. Memandu Jalannya Acara

Rangkaian PUBANTARA #9 dipandu oleh Ibu Brui Mutamang, S.Ag., M.Pd.B. selaku pembawa acara (MC).

Dengan suasana yang tenang dan penuh penghormatan, Ibu Brui mengarahkan seluruh rangkaian kegiatan, mulai dari pembukaan, puja bakti, penyampaian Dhamma, hingga penutup.

Kehadiran peserta dari berbagai daerah melalui ruang virtual menunjukkan bahwa jarak tidak menjadi penghalang untuk menghadirkan kepedulian dan kebersamaan dalam Dhamma, terutama bagi keluarga yang sedang mengalami kedukaan.

Puja Bakti Dipimpin Ibu Puji Hartati, S.Ag., M.Pd.

Puja bakti dipimpin oleh Ibu Puji Hartati, S.Ag., M.Pd., yang mengajak seluruh peserta mengikuti rangkaian puja bakti dengan penuh perhatian dan ketenangan.

Pembacaan paritta dan pelimpahan jasa menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut. Peserta diajak mengembangkan kebajikan dan mendedikasikannya bagi para mendiang, sekaligus menguatkan batin keluarga yang ditinggalkan.

Puja bakti juga menjadi kesempatan bagi peserta untuk berhenti sejenak dari kesibukan dan merenungkan kembali hakikat kehidupan.

Saring Santosa, S.Ag., M.Pd.: Segala yang Berkondisi Mengalami Perubahan

Pesan Dhamma dalam PUBANTARA #9 disampaikan oleh Bapak Saring Santosa, S.Ag., M.Pd., Kepala Bidang Kewirausahaan PERGABI.

Dalam Dhamma Desana-nya, Bapak Saring mengajak peserta memahami bahwa segala sesuatu yang berkondisi pasti mengalami perubahan.

Kehidupan manusia juga tidak terlepas dari perubahan tersebut. Manusia mengalami kelahiran, pertumbuhan, usia tua, sakit, dan pada akhirnya kematian. Rangkaian tersebut merupakan bagian dari proses kehidupan yang tidak dapat dihindari.

Karena itu, kematian bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri. Kematian merupakan bagian dari proses perubahan yang melekat pada kehidupan sejak seseorang dilahirkan.

Pemahaman tersebut menjadi penting agar manusia tidak hanya memandang kematian sebagai sebuah kehilangan, tetapi juga sebagai kesempatan untuk memahami hakikat kehidupan dengan lebih bijaksana.

Merenungkan Kisah Kisā Gotamī

Dalam Dhamma Desana-nya, Bapak Saring Santosa juga mengajak peserta merenungkan kisah Kisā Gotamī, salah satu kisah yang sangat kuat dalam ajaran Buddha tentang ketidakkekalan dan kematian.

Kisā Gotamī pernah mengalami kesedihan mendalam setelah kehilangan anaknya. Ia belum mampu menerima kenyataan bahwa anaknya telah meninggal dan kemudian memohon pertolongan untuk menghidupkannya kembali.

Buddha kemudian memberikan sebuah cara agar Kisā Gotamī memahami kenyataan kehidupan. Ia diminta mencari biji sesawi dari keluarga yang belum pernah mengalami kematian.

Dalam pencariannya dari rumah ke rumah, Kisā Gotamī akhirnya menyadari bahwa tidak ada keluarga yang terbebas dari pengalaman kehilangan. Dari pengalaman tersebut, ia mulai memahami bahwa kematian merupakan bagian dari kehidupan dan tidak ada makhluk yang dapat menghindarinya.

Kisah tersebut menjadi refleksi mendalam bagi peserta PUBANTARA #9 bahwa duka dan kehilangan merupakan pengalaman universal. Setiap manusia memiliki waktunya sendiri, tetapi hukum kehidupan tetap sama: segala sesuatu yang muncul akan mengalami perubahan.

Kematian sebagai Pengingat bagi yang Masih Hidup

Melalui Dhamma Desana tersebut, peserta diajak untuk tidak hanya memikirkan mereka yang telah berpulang, tetapi juga melihat kehidupan diri sendiri.

Kematian dapat menjadi pengingat bahwa waktu kehidupan sangat berharga. Selagi masih memiliki kesempatan, manusia hendaknya menggunakan kehidupannya untuk melakukan kebajikan, menjaga hubungan dengan sesama, mengembangkan cinta kasih, dan menjalani kehidupan dengan penuh kesadaran.

Peristiwa kematian juga dapat menjadi momentum untuk bertanya kepada diri sendiri: Apa yang sudah kita lakukan selama masih memiliki kesempatan untuk hidup?

Pertanyaan tersebut membawa peserta kembali pada praktik nyata Dhamma. Bukan sekadar memahami ketidakkekalan secara konsep, tetapi menjadikannya sebagai dorongan untuk menjalani kehidupan dengan lebih baik.

PUBANTARA: Kebersamaan dalam Duka

PUBANTARA #9 kembali menunjukkan peran PERGABI dalam menghadirkan kepedulian kepada keluarga yang sedang mengalami kedukaan.

Peringatan tujuh hari mendiang Ibu Partimah, tujuh hari mendiang Bapak Ngadiyanto, dan tiga hari mendiang Bapak Sandikarto menjadi momentum bagi keluarga besar PERGABI untuk bersama-sama mendoakan, melakukan kebajikan, dan memberikan dukungan moral kepada keluarga yang ditinggalkan.

Meskipun dilaksanakan secara daring, kebersamaan tetap terasa. Puluhan peserta dari berbagai daerah berkumpul dalam satu ruang virtual, menyatukan perhatian dalam puja bakti dan Dhamma.

PUBANTARA bukan hanya tentang ritual atau pertemuan secara daring. Di dalamnya terdapat nilai kepedulian, persaudaraan, cinta kasih, dan penguatan batin.

Menghidupkan Dhamma dalam Kehidupan

Pada akhirnya, PUBANTARA #9 memberikan sebuah pengingat sederhana namun mendalam: kematian adalah bagian dari kehidupan, sedangkan kehidupan adalah kesempatan untuk berbuat baik.

Ketika memahami bahwa segala sesuatu yang berkondisi akan berubah, manusia diharapkan tidak melekat secara berlebihan, tetapi justru semakin menghargai kehidupan yang sedang dijalani.

Kisah Kisā Gotamī mengajarkan bahwa tidak seorang pun dapat menghindari kematian. Namun, selama masih hidup, setiap orang memiliki kesempatan untuk mengembangkan kebijaksanaan, cinta kasih, dan kebajikan.

Semoga jasa kebajikan yang dilakukan melalui PUBANTARA #9 memberikan manfaat dan menjadi kondisi yang baik bagi para mendiang sesuai dengan karma masing-masing. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan, kesabaran, dan kedamaian batin dalam menghadapi kehilangan.

Sabbe saṅkhārā aniccā.
Segala sesuatu yang berkondisi adalah tidak kekal.

Sadhu. Sadhu. Sadhu.