0813 6441 1100 pp@pergabi.id

Jambi, 30 Agustus 2026 – Perkumpulan Guru Agama Buddha Indonesia (PERGABI) kembali menyelenggarakan PUBANTARA (Puja Bakti Nusantara) #11 pada Minggu malam (30/8/2026). Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka peringatan tujuh hari mendiang Ibu Sawi, ibunda dari Ibu Murniati dan mertua dari Bapak Suparmin, S.Ag., keluarga besar PERGABI Jambi.

PUBANTARA #11 dilaksanakan secara hybrid, yaitu secara daring melalui Zoom dan secara luring dari kediaman Bapak Suparmin, S.Ag., di Jambi. Perpaduan pelaksanaan daring dan luring tersebut menghadirkan suasana kebersamaan yang hangat. Peserta dari berbagai daerah dapat mengikuti puja bakti dari tempat masing-masing, sementara keluarga dan umat yang berada di Jambi berkumpul secara langsung di kediaman keluarga.

Mengenang Mendiang Ibu Sawi

Puja bakti kali ini menjadi momentum bagi keluarga besar PERGABI untuk memberikan penghormatan kepada mendiang Ibu Sawi yang telah wafat.

Tujuh hari setelah kepergian mendiang menjadi kesempatan bagi keluarga dan para peserta untuk bersama-sama melakukan kebajikan, membaca paritta, serta melimpahkan jasa kebajikan.

Bagi keluarga yang ditinggalkan, kehadiran keluarga besar PERGABI melalui PUBANTARA menjadi bentuk dukungan dan kepedulian di tengah suasana duka.

Ibu Sawi merupakan ibunda dari Ibu Murniati sekaligus mertua Bapak Suparmin, S.Ag. Keduanya merupakan bagian dari keluarga besar PERGABI Jambi.

Suasana khidmat puja bakti tujuh hari mendiang Ibu Sawi yang dilaksanakan secara hybrid dari Jambi dan berbagai daerah.

Puja Bakti Berlangsung Daring dan Luring

Keistimewaan PUBANTARA #11 terletak pada pelaksanaannya yang menggabungkan pertemuan virtual dan pertemuan langsung.

Di Jambi, keluarga melaksanakan puja bakti secara langsung di kediaman Bapak Suparmin, S.Ag. Sementara itu, para guru dan anggota PERGABI dari berbagai daerah bergabung melalui Zoom.

Suasana luring di kediaman keluarga memperlihatkan kekhidmatan dan kebersamaan keluarga dalam mengenang mendiang. Sementara melalui ruang virtual, peserta dari berbagai wilayah turut mengambil bagian dalam puja bakti dan pelimpahan jasa.

Hal tersebut menunjukkan bahwa perkembangan teknologi dapat menjadi sarana untuk memperluas kebersamaan dalam Dhamma. Jarak tidak menjadi penghalang bagi keluarga besar PERGABI untuk hadir dan memberikan dukungan kepada keluarga yang sedang berduka.

Pelimpahan Jasa sebagai Wujud Kepedulian

Dalam tradisi Buddhis, peristiwa kematian menjadi momentum untuk mengembangkan kebajikan. Melalui puja bakti, pembacaan paritta, dan pelimpahan jasa, peserta diajak untuk mengarahkan batin pada hal-hal yang positif sekaligus memberikan penghormatan kepada mereka yang telah berpulang.

Kehadiran dalam PUBANTARA bukan sekadar mengikuti kegiatan keagamaan, tetapi juga merupakan bentuk empati dan solidaritas kepada keluarga yang sedang mengalami kehilangan.

Keluarga besar PERGABI bersama-sama mendoakan agar jasa kebajikan yang dilakukan menjadi kondisi yang baik bagi mendiang sesuai dengan karma yang dimilikinya.

Menguatkan Keluarga yang Ditinggalkan

Kematian selalu menghadirkan perpisahan. Bagi keluarga, kehilangan orang yang dicintai tentu meninggalkan kesedihan yang mendalam.

Namun, Dhamma mengajarkan bahwa kehidupan berada dalam hukum perubahan dan ketidakkekalan. Karena itu, menghadapi kematian tidak hanya dilakukan dengan kesedihan, tetapi juga dengan mengembangkan kebajikan dan kebijaksanaan.

Melalui PUBANTARA, keluarga tidak berjalan sendirian dalam menghadapi masa duka. Kehadiran para guru, pengurus, dan anggota PERGABI dari berbagai daerah menjadi bentuk dukungan moral dan spiritual agar keluarga tetap kuat, sabar, dan mampu menghadapi kenyataan dengan penuh kesadaran.

PUBANTARA, Persaudaraan yang Melampaui Jarak

Pelaksanaan PUBANTARA #11 kembali menegaskan semangat persaudaraan dalam Dhamma.

Dari kediaman keluarga di Jambi hingga ruang virtual yang mempertemukan peserta dari berbagai daerah, semuanya dipersatukan dalam satu tujuan: melakukan kebajikan dan memberikan penghormatan kepada mendiang Ibu Sawi.

Kegiatan ini sekaligus menunjukkan bahwa kebersamaan tidak selalu membutuhkan kehadiran fisik. Ketulusan, kepedulian, dan niat baik dapat mempertemukan hati meskipun berada di tempat yang berbeda.

PUBANTARA menjadi salah satu bentuk nyata kepedulian PERGABI kepada keluarga besar guru Pendidikan Agama Buddha dan umat Buddha, terutama ketika menghadapi peristiwa kedukaan.

Semoga jasa kebajikan yang dilakukan melalui PUBANTARA #11 memberikan manfaat dan menjadi kondisi yang baik bagi mendiang Ibu Sawi sesuai dengan karma yang telah dilakukan.

Semoga Ibu Murniati, Bapak Suparmin, S.Ag., serta seluruh keluarga yang ditinggalkan senantiasa diberikan ketabahan, kesabaran, dan kedamaian batin dalam menghadapi perpisahan ini.

Sabbe saṅkhārā aniccā.
Segala sesuatu yang berkondisi adalah tidak kekal.

Sadhu. Sadhu. Sadhu.