0813 6441 1100 pp@pergabi.id

Jakarta, 14 Agustus 2026.  Perkumpulan Guru Agama Buddha Indonesia (PERGABI) kembali menyelenggarakan PUBANTARA (Puja Bakti Nusantara) #7 secara daring melalui Zoom, Jumat malam (14/8/2026). Kegiatan kali ini digelar dalam rangka peringatan tujuh hari mendiang Bapak Santoso, ayahanda dari Ibu Tijem, S.Ag., Guru Pendidikan Agama Buddha SD Negeri Kaligentong, Boyolali.

PUBANTARA #7 menjadi ruang kebersamaan bagi keluarga besar PERGABI dan umat Buddha dari berbagai daerah untuk bersama-sama mengenang mendiang, memberikan dukungan kepada keluarga yang sedang berduka, serta mengembangkan kebajikan melalui puja bakti dan pelimpahan jasa.

Meskipun dilaksanakan secara virtual, suasana khidmat tetap terasa. Para peserta mengikuti rangkaian kegiatan dengan penuh perhatian, mulai dari pembukaan, puja bakti, pembacaan paritta, pelimpahan jasa, hingga Dhamma Desana.

Mengenang Mendiang Bapak Santoso

PUBANTARA #7 secara khusus dipersembahkan untuk peringatan tujuh hari mendiang Bapak Santoso, ayahanda dari Ibu Tijem, S.Ag.

Momentum tujuh hari menjadi kesempatan bagi keluarga dan umat yang hadir untuk mengenang kehidupan mendiang sekaligus memperbanyak perbuatan baik dan melimpahkan jasa kebajikan.

Dalam suasana duka, puja bakti menjadi ruang untuk menenangkan batin, menerima kenyataan kehidupan, serta memperkuat keyakinan terhadap Dhamma. Kehadiran keluarga besar PERGABI juga menjadi bentuk kepedulian dan dukungan kepada keluarga yang ditinggalkan.

Puja Bakti Dipimpin Ibu Puji Hartati, S.Ag., M.Pd.

Rangkaian puja bakti dipimpin oleh Ibu Puji Hartati, S.Ag., M.Pd., Sekretaris Bidang Kerohanian PP PERGABI.

Dengan penuh ketenangan, Ibu Puji mengajak seluruh peserta mengikuti pembacaan paritta dan mengembangkan batin yang dilandasi mettā atau cinta kasih serta karuṇā atau welas asih.

Melalui puja bakti dan pelimpahan jasa, seluruh peserta bersama-sama mengembangkan kebajikan sebagai bentuk penghormatan kepada mendiang sekaligus memberikan dukungan batin kepada keluarga yang sedang mengalami kedukaan.

Ibu Brui Mutamang, S.Ag., M.Pd.B. Memandu Acara

Jalannya PUBANTARA #7 dipandu oleh Ibu Brui Mutamang, S.Ag., M.Pd.B., Ketua Bidang Sosial PP PERGABI, selaku pembawa acara.

Dengan tertib dan penuh penghormatan, Ibu Brui mengarahkan setiap rangkaian kegiatan, mulai dari pembukaan hingga Dhamma Desana.

Kehadiran pembawa acara turut menjaga suasana PUBANTARA tetap hangat, tertib, dan khidmat, sehingga peserta dari berbagai daerah dapat mengikuti seluruh rangkaian puja bakti dengan baik.

Dhamma Desana Bapak Satino, S.Ag.: Teruslah Berbuat Baik

Pesan Dhamma dalam PUBANTARA #7 disampaikan oleh Bapak Satino, S.Ag., Ketua Bidang Kerohanian PP PERGABI.

Dalam Dhamma Desana-nya, Bapak Satino mengajak peserta untuk menjadikan peristiwa kehilangan sebagai momentum untuk semakin memahami kehidupan dan memperkuat tekad untuk terus melakukan kebajikan.

Kehidupan terus berjalan dan setiap orang memiliki kesempatan yang terbatas untuk melakukan berbagai hal dalam kehidupannya. Karena itu, selagi masih memiliki kesempatan, hendaknya kesempatan tersebut digunakan untuk melakukan perbuatan yang baik dan bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang lain.

Terus berbuat baik menjadi pesan penting yang disampaikan Bapak Satino, S.Ag.

Kebaikan tidak harus selalu diwujudkan dalam sesuatu yang besar. Perbuatan sederhana yang dilakukan dengan tulus, penuh kepedulian, dan tanpa pamrih merupakan bagian dari praktik Dhamma dalam kehidupan sehari-hari.

Peristiwa kematian juga menjadi pengingat tentang ketidakkekalan kehidupan. Karena itu, kehilangan tidak semestinya hanya membawa kesedihan, tetapi juga dapat menjadi momentum untuk memperbanyak kebajikan.

Mengenang seseorang yang telah berpulang tidak harus berhenti pada kenangan. Nilai-nilai baik dapat terus dihidupkan melalui perbuatan baik yang dilakukan oleh mereka yang masih menjalani kehidupan.

Duka yang Mengajarkan Kebijaksanaan

Kehilangan orang yang dicintai tentu meninggalkan ruang kosong bagi keluarga. Namun, Dhamma mengajarkan bahwa segala sesuatu berada dalam proses perubahan dan tidak ada yang bersifat kekal.

PUBANTARA memberikan ruang bagi keluarga dan peserta untuk menghadapi kenyataan tersebut dengan lebih tenang. Doa, pembacaan paritta, pelimpahan jasa, dan Dhamma Desana menjadi sarana untuk menguatkan batin sekaligus menumbuhkan kebijaksanaan.

Di tengah duka, masih ada kesempatan untuk berbuat baik. Di tengah perpisahan, masih ada kesempatan untuk menebarkan kasih.

Pesan itulah yang terasa kuat dalam PUBANTARA #7: orang yang telah berpulang memang tidak dapat kembali, tetapi kebaikan yang pernah dilakukan dapat terus dikenang dan kebaikan baru dapat terus dilanjutkan.

Kebersamaan yang Melampaui Jarak

PUBANTARA juga menunjukkan bahwa teknologi dapat menjadi jembatan kebersamaan. Peserta dari berbagai daerah dapat berkumpul dalam satu ruang virtual, mengikuti puja bakti, mendengarkan Dhamma, dan bersama-sama memberikan dukungan kepada keluarga yang sedang berduka.

Bagi PERGABI, kegiatan ini bukan sekadar pelaksanaan puja bakti secara daring. PUBANTARA menjadi wujud kepedulian, persaudaraan, dan semangat untuk saling menguatkan dalam Dhamma.

Pada akhirnya, PUBANTARA #7 meninggalkan pesan sederhana namun mendalam: selagi kehidupan masih memberikan kesempatan, jangan berhenti berbuat baik.

Sebab kehidupan akan terus berubah dan pada waktunya setiap orang akan menghadapi perpisahan. Yang dapat dilakukan sekarang adalah mengisi kehidupan dengan kebajikan, kasih sayang, dan perbuatan yang memberikan manfaat bagi sesama.

Sabbe sattā bhavantu sukhitattā.
Semoga semua makhluk hidup berbahagia.

Sadhu. Sadhu. Sadhu.