Jakarta, 20 Agustus 2026 – Perkumpulan Guru Agama Buddha Indonesia (PERGABI) kembali menyelenggarakan PUBANTARA (Puja Bakti Nusantara) #8 secara daring melalui Zoom, Kamis (20/8/2026). Kegiatan yang diikuti sekitar 30 peserta ini menjadi ruang kebersamaan untuk melaksanakan puja bakti dan pelimpahan jasa bagi mereka yang telah berpulang.
PUBANTARA #8 secara khusus menghadirkan pelimpahan jasa bagi mendiang Ibu Partimah serta peringatan tiga hari wafat mendiang Bapak Ngadiyanto. Para peserta dari berbagai daerah mengikuti kegiatan dengan penuh khidmat sebagai bentuk penghormatan kepada para mendiang sekaligus dukungan moral dan spiritual bagi keluarga yang ditinggalkan.

Puja Bakti Dipimpin Bapak Satino, S.Ag.
Rangkaian puja bakti dipimpin oleh Bapak Satino, S.Ag., Ketua Bidang Kerohanian PP PERGABI. Peserta diajak mengikuti pembacaan paritta dan mengembangkan batin yang tenang dalam suasana penuh penghormatan.
Melalui puja bakti dan pelimpahan jasa, peserta bersama-sama mengembangkan kebajikan serta mendedikasikannya bagi mendiang. Pada saat yang sama, kegiatan ini menjadi kesempatan bagi mereka yang masih hidup untuk merenungkan kembali makna kehidupan dan kematian.

Ibu Puji Hartati, S.Ag., M.Pd. Memandu Acara
Jalannya PUBANTARA #8 dipandu oleh Ibu Puji Hartati, S.Ag., M.Pd. selaku pembawa acara.
Dengan suasana yang tenang dan tertib, Ibu Puji mengarahkan seluruh rangkaian kegiatan, mulai dari pembukaan, puja bakti, Dhamma Desana, hingga penyampaian ungkapan terima kasih dari pihak keluarga.
Kehadiran peserta dari berbagai daerah melalui ruang virtual membuat kegiatan tetap terasa sebagai sebuah kebersamaan, meskipun masing-masing mengikuti dari tempat yang berbeda.

Pujimin, S.Ag., M.Pd: Kematian dalam Empat Lapisan Makna
Bagian utama PUBANTARA #8 diisi dengan Ceramah Dhamma oleh Bapak Pujimin. S.Ag., M.Pd., wakil Ketua Umum PERGABI Dalam ceramahnya, beliau mengajak peserta melihat kematian tidak hanya dari satu sudut pandang, tetapi melalui empat lapisan pemaknaan.
Lapisan pertama, kematian sebagai manusia adalah sebuah kehilangan.
Kematian membawa rasa kehilangan bagi orang-orang yang ditinggalkan. Kehadiran seseorang yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan tiba-tiba tidak lagi dapat ditemui secara fisik. Rasa sedih dan kehilangan merupakan pengalaman manusiawi yang perlu diterima dengan penuh kesadaran.
Lapisan kedua, kematian menjadi kesempatan untuk bertanya apa yang sebenarnya penting dalam kehidupan.
Ketika berhadapan dengan kematian, manusia diajak berhenti sejenak dan melihat kembali kehidupannya sendiri. Apa yang selama ini dianggap penting? Apa yang sebenarnya ingin dilakukan? Dan, bagi mereka yang masih hidup, kehidupan hendaknya digunakan untuk hal-hal yang benar-benar bermakna.
Pertanyaan tersebut menjadi kesempatan untuk melakukan refleksi, bukan hanya tentang kematian, tetapi juga tentang bagaimana kehidupan sedang dijalani.
Lapisan ketiga, kematian merupakan cermin Anicca.
Kematian menjadi wujud nyata dari perubahan. Ajaran Anicca mengingatkan bahwa segala sesuatu yang berkondisi tidak kekal. Kehidupan berubah, tubuh berubah, hubungan berubah, dan pada akhirnya kehidupan juga berakhir.
Dengan memahami Anicca, seseorang diajak untuk melihat kematian bukan sebagai sesuatu yang sepenuhnya terpisah dari kehidupan, melainkan sebagai bagian dari hukum perubahan yang berlangsung dalam kehidupan.
Lapisan keempat, kematian menjadi pengingat bahwa kita hidup.
Kematian justru mengingatkan mereka yang masih hidup untuk benar-benar menjalani kehidupannya. Selama masih memiliki kesempatan, manusia dapat memperbanyak kebajikan, memperbaiki diri, menyayangi orang-orang di sekitarnya, dan melakukan hal-hal yang bermanfaat.
Dengan demikian, kematian tidak hanya berbicara tentang berakhirnya kehidupan seseorang, tetapi juga menjadi pengingat bagi mereka yang masih hidup untuk menjalani kehidupan dengan lebih sadar dan bermakna.

Ungkapan Terima Kasih dari Keluarga
Dalam kesempatan tersebut, Ibu Sriyanti menyampaikan ungkapan terima kasih mewakili keluarga mendiang Ibu Partimah.
Ucapan terima kasih disampaikan kepada keluarga besar PERGABI dan seluruh peserta yang telah hadir serta bersama-sama mengikuti puja bakti dan pelimpahan jasa. Dukungan dan kebersamaan tersebut menjadi penguat bagi keluarga dalam menghadapi masa duka.
Sementara itu, Ibu Brui Mutamang, S.Ag., M.Pd.B., mewakili keluarga mendiang Bapak Ngadiyanto, turut menyampaikan penghargaan dan terima kasih atas perhatian serta dukungan yang diberikan melalui PUBANTARA.
Kehadiran keluarga dalam kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa PUBANTARA bukan sekadar kegiatan keagamaan secara daring, tetapi juga menjadi ruang untuk saling menguatkan ketika seseorang atau keluarga sedang menghadapi kehilangan.

Ketika Kematian Mengingatkan Kita untuk Hidup
PUBANTARA #8 menghadirkan sebuah pesan penting: kematian bukan hanya sesuatu yang perlu kita renungkan ketika seseorang berpulang, tetapi juga pengingat bagi kita yang masih hidup.
Kematian mengajarkan tentang kehilangan. Kematian mengajak bertanya tentang makna kehidupan. Kematian menjadi cermin Anicca. Dan pada akhirnya, kematian mengingatkan bahwa kita masih memiliki kesempatan untuk hidup dengan lebih baik.
Karena itu, selama kehidupan masih berlangsung, kesempatan untuk berbuat baik hendaknya tidak disia-siakan.
Melalui PUBANTARA, PERGABI terus menghadirkan ruang kebersamaan untuk menumbuhkan kepedulian, memperkuat persaudaraan, dan menghidupkan nilai-nilai Dhamma dalam menghadapi berbagai peristiwa kehidupan.
Semoga jasa kebajikan yang dilakukan dalam PUBANTARA #8 memberikan manfaat dan menjadi kondisi yang baik bagi para mendiang serta memberikan ketenangan dan kekuatan bagi keluarga yang ditinggalkan.
Sabbe sattā bhavantu sukhitattā.
Semoga semua makhluk hidup berbahagia.
Sadhu. Sadhu. Sadhu.