0813 6441 1100 pp@pergabi.id

Jakarta, 6 Agustus 2026 – Perkumpulan Guru Agama Buddha Indonesia (PERGABI) kembali menyelenggarakan PUBANTARA (Puja Bakti Nusantara) #3, Kamis (6/8/2026) pukul 18.00 WIB hingga selesai. Kegiatan puja bakti secara daring melalui Zoom ini dilaksanakan dalam rangka memperingati tujuh hari wafatnya mendiang Bapak Tarko Utomo, ayahanda dari Ibu Juliyah, guru Pendidikan Agama Buddha di Banjarnegara, Jawa Tengah.

PUBANTARA menjadi salah satu bentuk kepedulian dan kebersamaan keluarga besar PERGABI dalam memberikan penghormatan kepada mendiang sekaligus menyampaikan ungkapan belasungkawa kepada keluarga yang ditinggalkan.

Kegiatan berlangsung dalam suasana khidmat. Para guru Pendidikan Agama Buddha dan anggota PERGABI dari berbagai daerah mengikuti rangkaian puja bakti melalui ruang virtual Zoom. Layar peserta memperlihatkan kehadiran sejumlah anggota PERGABI yang mengikuti kegiatan dari berbagai tempat.

Pada kegiatan tersebut, peserta mengikuti rangkaian Puja Avamaṅgala yang dipandu dengan menggunakan bahan puja bakti yang telah dipersiapkan. Doa dan penghormatan ditujukan bagi mendiang Bapak Tarko Utomo, dengan harapan jasa-jasa kebajikan yang dilimpahkan dapat menjadi kondisi pendukung bagi kebahagiaan dan kelahiran yang baik sesuai dengan karma yang telah dilakukan.

Menguatkan Keluarga yang Ditinggalkan

Peringatan tujuh hari dalam tradisi Buddhis tidak semata-mata menjadi momentum untuk mengenang seseorang yang telah meninggal dunia. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi kesempatan bagi keluarga dan umat Buddha untuk mengembangkan kebajikan, melakukan pelimpahan jasa, serta memahami kembali hakikat kehidupan yang senantiasa mengalami perubahan.

Melalui PUBANTARA #3, keluarga besar PERGABI turut memberikan dukungan moral kepada keluarga mendiang. Kebersamaan para guru Pendidikan Agama Buddha di ruang virtual menjadi wujud nyata bahwa perpisahan tidak harus dihadapi seorang diri.

Pelaksanaan puja bakti juga menjadi momentum untuk mengembangkan metta, karuna, mudita, dan upekkha—cinta kasih, welas asih, turut berbahagia atas kebajikan, serta keseimbangan batin dalam menghadapi perubahan kehidupan.

Dalam suasana penuh penghormatan, seluruh peserta memanjatkan doa dan harapan agar keluarga yang ditinggalkan senantiasa diberikan ketabahan, kesabaran, kekuatan, dan keikhlasan dalam menghadapi kepergian orang yang dicintai.

PUBANTARA, Merawat Kebersamaan Guru Agama Buddha

PUBANTARA atau Puja Bakti Nusantara merupakan ruang kebersamaan yang mempertemukan guru dan anggota PERGABI dari berbagai wilayah Indonesia melalui kegiatan puja bakti secara daring.

Kehadiran PUBANTARA menjadi semakin bermakna karena teknologi digital tidak hanya dimanfaatkan untuk kepentingan pembelajaran dan komunikasi, tetapi juga menjadi sarana mempererat persaudaraan dalam Dhamma.

Melalui kegiatan seperti ini, jarak geografis tidak menjadi penghalang bagi guru-guru Pendidikan Agama Buddha untuk saling mendukung dalam suasana suka maupun duka.

PUBANTARA #3 sekaligus menunjukkan bahwa semangat kebersamaan PERGABI tidak berhenti pada aktivitas organisasi, tetapi hadir dalam kehidupan nyata anggotanya. Ketika salah satu keluarga anggota mengalami kedukaan, keluarga besar PERGABI hadir memberikan penghormatan dan dukungan.

Pelimpahan Jasa dan Refleksi Dhamma

Dalam Dhamma, kehidupan yang berkondisi senantiasa berada dalam perubahan. Kelahiran, pertumbuhan, usia tua, sakit, kematian, serta berbagai perubahan kehidupan merupakan bagian dari hukum alam yang tidak dapat dihindari.

Karena itu, momentum peringatan tujuh hari menjadi kesempatan bagi setiap peserta untuk tidak hanya mengenang mendiang, tetapi juga melakukan refleksi terhadap kehidupan sendiri.

Kebajikan yang dilakukan pada kesempatan tersebut diharapkan menjadi kondisi baik bagi semua pihak. Bagi keluarga yang ditinggalkan, kebajikan dan pelimpahan jasa menjadi pengingat untuk tetap teguh dalam Dhamma serta menjalani kehidupan dengan penuh kesadaran.

PUBANTARA #3 akhirnya bukan sekadar kegiatan puja bakti secara daring. Ia menjadi simbol persaudaraan, kepedulian, dan kekuatan komunitas guru Pendidikan Agama Buddha Indonesia dalam menghadapi salah satu kenyataan paling mendasar dalam kehidupan: ketidakkekalan.

Semoga mendiang Bapak Tarko Utomo memperoleh kebahagiaan sesuai dengan buah kebajikannya. Semoga keluarga yang ditinggalkan senantiasa diberikan kekuatan dan kedamaian batin.

Sabbe saṅkhārā aniccā.
Segala sesuatu yang berkondisi adalah tidak kekal.

Sadhu… Sadhu… Sadhu… 🙏

Namo Buddhaya.